A. Teori Perkembangan Kognitif
Secara sederhana Seifert dan Hoffnung mendefinisikan perkembangan sebagai “long term change in a persons growth, feeling, patterns of thinking, social relationships, and motor skills”. Sementara itu Chaplin mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, mulai dari lahir sampai mati. Menurut Reni Akbar Hawadi, perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru.
Menurut F.J. Monks, pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk kepada sifat yang tetap dan tidak dapat diputar kembali. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju kearah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, beradasarkan pertumbuhan, pematanagn dan belajar.
Santrock menjelaskan pengertian perkembangan sebagai berikut : ”development is the pattern of change that begin at conception and continous throught the life span. Most development involves growth, although it includes decay (as in death and dying). The pattern of movement is complex because it is product of several processes-biological, cognitive, and socio motional.”
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
a. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
b. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
c. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
d. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
e. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
f. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
a. Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
b. Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
c. Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
d. Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
e. Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
f. Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Masalah perkembangan kognitif
Perkembanmgan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. seperti yang dikatakan Van den den Daele (Hurlock : 2 ) bahwa perkembangan adalah perubahan secara kualitatif. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktu dan fungsi yang kompleks.
Perkembangan juga diartikan sebagai ”peruibahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah)”, Perkembangan dapat diartikan ” suatu proses perubahan pada diri individu atau organisme, baaik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis progresif, dan berkesinambungan”,(Syamsu Yusuf : 83 ). Dan semua para ahli sependapat bahwa yang dimaksud dengan perkembangan itu adalah suatu proses perubahan pada seseorang kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, naqmun mereka berbeda-beda pendapat tentang bagaimana proses perubahan itu terjadi dalam bentuknya yang hakiki. (Ani Cahyadi, Mubin, 2006 : 21-22).
Hubungannya dengan intelektual anak bahwa inteligensi anak bahwa ineligensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatui fiksi ilmiah untuk mendeskripsiskan prilaku induvidu yang berkaitan dengan kemampuan intelektualnya. Dalam mengartikan inteligensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Diantaranya menurut C.P. Chaplin (1975) mengartikan inteligensi itu sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif (Syamsu Yusuf : 106).
Maka yang menjadi rumusan masalah di dalam makalah ini adalah bagaimana proses perkembangan intelelektual anak hubungannya inteligensinya di dalam proses pendidikan.
Upaya Pengembangan kognitif
• Jangka Pendek : membantu anak jalanan usia remaja awal mengembangkan dirinya.
• Jangka panjang : meningkatkan kecerdasan emosional, sehingga anak jalanan dapat memecahkan masalah secara mandiri, dan dapat berkomunikasi dengan orang lain secara lebih baik.
Dengan serangkaian program pengembangan diri yang diberikan, anak jalanan dapat meningkat kecerdasan emosionalnya dan hidup mandiri, normal, hidup secara wajar dengan meminimalisir hambatan personal, sosial, dan psikologis.
Bagi Siswa :
• Meningkatkan kondisi emosional psikologis dan kondisi psikososial anak jalanan kedalam kondisi yang lebih sehat
• Meningkatkan kemampuan serta ketahanan anak jalanan dalam memecahkan masalah-masalah psikososial yang dihadapi dalam berhadapan dengan orang lain.
• Anak jalanan lebih dapat diterima masyarakat karena sikapnya yang telah berubah menjadi lebih baik.
• Anak jalanan mampu mengembangkan kepribadian dan potensi diri yang dimilikinya
Bagi Pemerintah
• Ikut memberikan sumbangsih moril demi perkembangan generasi penerus bangsa secara optimal.
Sasaran kegiatan ini adalah para anak jalanan usia remaja awal kota Malang. Dimana sebagian besar dari mereka tidak memiliki pengetahuan berkomunikasi secara baik dan membaca emosi orang lain. Usia remaja awal adalah masa seorang anak mulai mencoba berhubungan dengan orang lain terutama tema sebaya. Mereka memerlukan bantuan untuk meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Kurangnya perhatian antara orang tua dengan anak, dan minimnya pendidikan yang didapat seringkali membuat anak tidak mengetahui cara berhu bungan baik dengan lingkungan dan mengatasi problem pribadi secara mandiri, sehingga sering masalah yang dialami diselesaikan dengan cara yang keliru. Selain itu mereka juga dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang memprihatinkan. Dalam kegiatan ini tim PKMM bekerjasama dengan salah satu rumah singgah yang terdapat di tengah-tengah kota Malang yang bernama Rumah Singgah Flamboyan untuk menghubungakn tim PKMM dengan anak-anak jalanan remaja.
B. Teori Perkembangan Bahasa
1. Pengertian/ Makna Bahasa
Bahasa adalah sebuah bentuk komunikasi.Ada tiga faktor paling signifikan yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu biologis, kognitif dan lingkungan.Faktor biologis adalah salah satu landasan perkembangan bahasa untuk membentuk manusia menjadi seorang manusia linguistik.Setiap anak mempunyai language acquisition device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa.Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa.Faktor kognitif individu merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada perkembangan bahasa anak.Para ahli kognitif juga menegaskan bahwa kemampuan anak berbahasatergantung pada kematangan kognitifnya.
Secara umum semua bahasa mengikuti aturan dibawah ini, yaitu:
a. Fonologi. Bagaimana seseorang memperoleh fasilitas kemampuan memahami bunyi kata dan intonasi merupakan sejarah perkembangan fonologi.
b. Morfologi. Merupakan aturan untuk mengombinasikan morfem.Morfem adalah suatu rangkaian suara yang merupakan kesatuan dari bahasa terkecil.Aturan yang mengatur morfem memastikan bahwa serangkaian suara tertentu terjadi dalam urutan tertentu dan sesuai dengan aturan lainnya.
c. Sintaksis. aturan-aturan yang mengatur bagaimana kata-kata disusun ke dalam kalimat yang dipahami dan dapat diterima.
d. Semantik. Merupakan makna kata atau cara yang mendasari konsep-konsep yang diekspresikan dalam kata-kata atau kombinasi kata.
e. Pragmatik. Berkenaan dengan bagaimana menggunakan bahasa dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain. Di dalamnya meliputi bagaimana mengambil kesempatan yang tepat, mencari dan menetapkan topik yang relevan, mengusahakan agar benar-benar komunikatif, bagaimana menggunakan bahasa tubuh (gesture), intonasi suara, dan menjaga konteks agar pesan-pesan verbal yang disampaikan dapat dimaknai dengan tepat oleh penerimanya. Pragmatik juga mencakup di dalamnya pengetahuan sosiolinguistik, yaitu bagaimana suatu bahasa harus diucapkan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu. Agar dapat berkomunikasi dengan berhasil, seseorang harus memahami dan menerapkan cara-cara interaksi dan komunikasi yang dapat diterima oleh masyarakat tertentu, seperti ucapan selamat datang dan selamat tinggal serta cara mengucapkannya. Selain itu, seseorang juga harus memperhatikan tata krama berkomunikasi berdasarkan hirarki umur atau status sosial yang masih dijunjung tinggi dalam suatu masyarakat tertentu.Pada anak, pragmatik dilakuakan ketika mereka belajar membedakanmana bahasa yang sopan dan kasar serta ketika mereka belajar menceritakan sebuah lelucon menjadi terdengar lucu.
2. Teori-teori Yang Berhubungan Dengan Bahasa
• Teori bahasa membicarakan bahasa formal (formal language), terutama untuk kepentingan perancangan kompilator (compiler) dan pemroses naskah (text processor).
• Bahasa formal adalah kumpulan kalimat. Semua kalimat dalam sebuah bahasa dibangkitkan oleh sebuah tata bahasa (grammar) yang sama.
• Sebuah bahasa formal bisa dibangkitkan oleh dua atau lebih tata bahasa berbeda.
• Dikatakan bahasa formal karena grammar diciptakan mendahului pembangkitan setiap kalimatnya.
• Bahasa Natural/manusia bersifat sebaliknya; grammar diciptakan untuk meresmikan kata-kata yang hidup di masyarakat. Dalam pembicaraan selanjutnya ‘bahasa formal’ akan disebut ‘bahasa’ saja.
• Otomata adalah mesin abstrak yang dapat mengenali (recognize), menerima (accept), atau membangkitkan (generate) sebuah kalimat dalam bahasa tertentu.
3. Ciri-ciri Perkembangan Aspek Bahasa
Bahasa memiliki ciri-ciri umum yang menggambarkan hakikat, komunikasi, sarana dan sistematika:
a. Bahasa mempunyai aturan atau pola terdiri dari sistem bunyi dan makna.
b. Bahasa itu manasuka (arbitrer), dipilih secara acak tanpa alasan atau manasuka. Tidak ada hubungan logis dengan kata-kata sebagai symbol.
c. Bahasa itu ucapan/vocal, media bahasa yang terpenting adalah dengan bunyi-bunyi.
d. Bahasa itu simbol, simbol dari perasaan, keinginan dan harapan. Bahasa itu simbol kehidupan manusia, simbol manusia itu sendiri.
e. Bahasa mengacu pada diri sendiri, bahwa bahasa itu mampu digunakan menganalisa bahasa itu sendiri.
f. Bahasa itu manusiawi, bahasa itu adalah kekayaan yang dimiliki oleh manusia. Hanya manusia satu-satunya makhluk yang mempunyai kemampuan berbahasa.
g. Bahasa itu komunikasi, bahasa itu alat kamunikasi dan interaksi antar manusia dan menjadi pelekat dalalm menyatupadukan keluarga, masyarakat dan berbagai kegiatan sosialisasi.
4. Masalah-masalah Yang Berhubungan Dengan Bahasa
Indicator perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa dapat diidentifikasikan dengan beberapa indakotrnya antara lain dengan jumlah perbendaharaan kata (vocabulary), jenis, struktur, dab bentuk kalimat, isi yang dikandungnya; gambar atau lukisan, bentuk gerakan-gerakan tertentu yang bersifat ekspresif. Dengan menggunakan beberapa indicator tersebut maka dapatlah dideskripsikan perkembangan bahasa pada manusia itu, sebagai berikut.
a) Pada masa bulan pertama dan masa bayi individu berinrekasi dan berkomunikasi dengan lingkungannya secara spontan dan instinktif secara positif (menerima, meraih, atau mendapat benda-benda atau suara yang menyenangkan, misalnya botol susu hangat, belaian suara ibu, dan sebagainya) atau gerakan negative (menolak benda yang dingin, dan sebagainya); bahasa mimik (senyuman dan tawa); bahasa emosional ekspresif (menangis kalau lapar, kedinginan, mendengar suara keras, meraba, dan sebagainya);
b) Pada masa enam bula kedua dari masa bayi, bahasa sensorimotorik tersebut berangsur berkurang, sedangkan bahasa merabanya semakin terarah dan berbentuk dengan dapatnya meniru kata-kata tertentu yang diuvapkna orang disekitarnya (meskipun mungkin ia sudah dapat membuat kalimat satu kata, misalnya mama, mamam (kalau ia merasa lapar atau melihat botol susu atau melihat makanan,dan sebagainya);
c) Pada masa kanak-kanak, individu sudah mengenal dan mengetahui sejumlah perbendaharaan kata-kata (vocabulary); usia sekitar 3-4 tahun perbendaharaannya sekitar 300 dan pada usia sekitar 6-7 tahun mencapai 2500 kata dan bahkan dapat diduga lebih dari jumlah tersebut (Lefrancois, 1975:186;crow & crow, 1956:65);
d) Pada masa anak sekolah, dengan dikuasainya keterampilan membaca dan berklomunikasi dengan orang lain, maka pada periode 6-8 tahun ia dengan senang hati sekali membaca atau mendengar dongeng fantasi; usia sekitar 10-12 tahun gemar cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan, riwayat para pahlawan,dan sebagainya);
e) Pada masa remaja awal mereka senang bahasa sandi, atau bahasa rahassia yang berlaku pada gangnya sehingga banyak menimbulkan kepenasaran (curiousity) pihak luar mereka untuk berusaha memahaminya; perhatiannya kearah mempelajari bahasa asing mulai berkembang.
5. Upaya-upaya Yang Dilakukan Untuk Perkembangan Bahasa
Perkembangan Bahasa
Kemampuan berbahasalah yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan berbahasalah manusia:
1) Mengkodifikasikan, mencatat, dan menyimpan berbagai hasil pengalaman pengamatan (observasi)-nya berupa kesan dan tanggapan (persepsi), informasi, fakta, dan data, konsep atau pengertian (concept and ideas), dalil atau kaidah atau hokum (principles) sampai kepada bentuk ilmu pengetahuan (body of knowledge) dan system-sistem nilai (value systems);
2) Mentransformasikan dan mengolah berbagai bentuk informasi tersebut di atas melalui proses berpikir dan dengan mempergunakan kaidah-aidah logika (diferensiasi, asosiasi, proporsi, atau komparasi, kausalitas, prediksi, koklusi, generalisasi, interpretasi dan inferensi) dalam mencari, mengkreasikan dan menemukan hal-hal baru;
3) Mengkoordinasikan dan mengekspresikan cita-cita, sikap, penilaian, dan penghayatan (etis, estetis ekonomis, social, politik, religious, dan cultural);
4) Mengkomunikasikan (menyimpan dan menerima)berbagai informasi, buah pikiran, opini, sikap, penilaian, aspirasi, kehendak, dan renacana kepada orang lain.
Bahasa termasuk dapat berbentuk lisan atau tullisan dengan mempergunakan tanda (coding), huruf (alphabetic), bilangan (numerial atau digital), bunyi, sinar, atau cahaya yang dapat merupakan kata-kata (words) atau kalimat (sentences). Mungkin pula berbentuk gambar atau lukisan (drawing, picture), grak-gerik (gestures) dan mimic serta bentuk-bentuk symbol ekspresif lainnya.
Proses perkembangan bahasa
Para ahli sependapat bahwa pembentukan bahasa pada anak-anak sangat dipengaruhioleh fakotr-faktor latihan dan motivasi (kemauan) untuk belajar dengan melalui proses conditioning dan reinforcement (lefrancois,1975). Misi dan jenis bahasa yang dipelajari manusia itu berbeda-beda, namun terdapat pola urutan perkembangan yang bersifat universal dalam proses perkembangan bahasa itu ialah mulai dengan meraba, lalu bicara menolong (pada dirinya atau benda mainannya), haus nama-nama, kemudian gemar bertanya (apa, mengapa, bagaimana dan sebagainya) yang tidak selalu harus dijawab; membuat kalimat sederhana (satu, dua, atau tiga kata), bahasa ekspresif (dengan belajar menulis, membaca dan menggambar permulaan).
Tuesday, March 30, 2010
Perkembangan Perilaku Individu
A. Konsep Perkembangan Individu
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.
Sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya.
Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar); perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku).
Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Contoh : untuk dapat berdiri, seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak.
Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut:
Terjadinya perubahan dalam aspek : Fisik (berat dan tinggi badan) dan Psikis (berbicara dan berfikir)
Terjadinya perubahan proporsi: Fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya) dan Psikis (perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis).
Lenyapnya tanda – tanda yang lama: Fisik (rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal) dan Psikis (lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsive).
Diperolehnya tanda – tanda baru: Fisik (pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua) dan Psikis (berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama).
Prinip- prinsip perkembangan individu, yaitu :
a. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
b. Semua aspek perkembangan saling berhubungan.
c. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.
d. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
e. Setiap individu normal akan mengalami tahapan perkembangan.
f. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu.
Arah atau pola perkembangan sebagai berikut :
a. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung, paru dan sebagainya) ke samping (tangan).
b. Struktur mendahului fungsi.
c. Diferensiasi ke integrasi.
d. Dari konkret ke abstrak.
e. Dari egosentris ke perspektivisme.
f. Dari outer control ke inner control.
Tahapan – Tahapan Perkembangan Individu
Dalam berbagai literatur kita dapati berbagai pendekatan dalam menentukan tahapan perkembangan individu, diantaranya adalah pendekatan didaktis. Dalam hal ini, Syamsu Yusuf (2003) mengemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis, sebagai berikut :
a. Masa Usia Pra Sekolah
Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik
Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impuls-impuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya.
Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka.
b. Masa Usia Sekolah Dasar
Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) :
Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.
Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
Membandingkan dirinya dengan anak yang lain.
Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.
Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
Masa Usia Sekolah Menengah
Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja, yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu :
masa remaja awal; biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif, dalam jasmani dan mental, prestasi, serta sikap sosial,
masa remaja madya; pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung dan dipuja.
masa remaja akhir; setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja, yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa.
Masa Usia Kemahasiswaan (18,00-25,00 tahun)
Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya, yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup.
B. Dinamika perilaku individu
1. Pengamatan adalah proses belajar mengenal segala sesuatu yang berada di lingkungan sekitar dengan menggunakan alat indera penglihatan, pendengaran, pengecap dan pembau.
2. Persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di otak atau pengertian individu tentang situasi atau pengalaman. Ciri umum dari persepsi adalah terkait dengan dimensi ruang dan waktu, terstruktur, menyeluruh dan penuh arti. Persepsi bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh perhatian selektif, ciri-ciri rangsangan, nilai dan kebutuhan individu, dan pengalaman.
3. Berfikir adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir bertujuan untuk membentuk pengertian, membentuk pendapat, dan menarik kesimpulan. Proses Berfikir kreatif terdiri dari persiapan , inkubasi, iluminasi, verifikasi. Jenis berpikir ada 2 yaitu berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi.
4. Inteligensi dapat diartikan sebagai:
1) Kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir rasional.
2) Kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru.
3) Kemampuan memecahkan simbol-simbol tertentu. Inteligensi tidak sama dengan IQ karena IQ hanya rasio yang diperoleh dengan menggunakan tes tertentu yang tidak atau belum tentu menggambarkan kemampuna individu yang lebih kompleks. Teori tentang inteligensi di antaranya G-Theory (general theory) dan S-Theory (specific theory). Inteligensi dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
5. Sikap adalah evaluasi positif-negatif-ambivalen individu terhadap objek, peristiwa, orang, atau ide tertentu. Sikap merupakan perasaan, keyakinan, dan kecenderungan perilaku yang relatif menetap. Unsur-unsur sikap meliputi kognisi, afeksi, dan kecenderungan bertindak. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap adalah pengalaman khusus, komunikasi dengan orang lain, model, dan lembaga-lembaga sosial.
C. Arah Perkembangan Individu
Pada individu-individu yang tergolong normal pada umumnya perkembangan laju pesat sampai usia limabelas tahun, di mana tercapainya titik optimal kedewasaan perkembangan fungsi-fungsi fisik dan psikis (intelektual).
Ada tiga kemungkinan kecenderungan arah garis perkembangan hidup seseorang yang dapat digambarkan secara visual, sebagai berikut.
Kemungkinan perkembangan selanjutnya:
1. Kemungkinan pertama, bagi mereka yang tidak memperoleh kesempatan untuk belajar atau melatih fungsi-fungsinya (terutama segi intelektual), maka kemampuannya cenderung tidak berkembang lagi sampai usia sekitar empat puluh tahunan. Bahkan, setelah mencapai usia tersebut kemampuannya mulai menurun, malahan tidak kurang jumlahnya yang menuju pikun pada hari-hari tuanya (garis a)
2. Kemungkinan kedua, bagi mereka yang bernasib baikuntuk memperoleh kesempatan belajar atau melatih fungsi-fungsi psikofisiknya lebih lanjut, maka perkembangan kemampuan fungsi-fungsi masih ada baiknya bersifat peningkatan atau perluasan sampai taraf empat puluhan pulam namun selanjutnya, setelah dijalani usia tersebut tidak berkesempatan lagi belajar, tetapi hanya bekerja, secara routline dan monoton, maka cenderung untuk berada pada titik jenuh tersebut dan tidak berkembang lagi (garis b).
Namun bagi mereka yang terus berusaha belajar dan mengumuli perkembangan informasi-informasi mutakhir, perkembangan itu dapat terjadi meskipun hanya bersifat perluasan atau pendalaman (garis c).
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.
Sistematis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh : kemampuan berbicara seseorang akan sejalan dengan kematangan dalam perkembangan intelektual atau kognitifnya. Kemampuan berjalan seseorang akan seiring dengan kesiapan otot-otot kaki. Begitu juga ketertarikan seorang remaja terhadap jenis kelamin lain akan seiring dengan kematangan organ-organ seksualnya.
Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif (fisik) mapun kualitatif (psikis). Contoh : perubahan proporsi dan ukuran fisik (dari pendek menjadi tinggi dan dari kecil menjadi besar); perubahan pengetahuan dan keterampilan dari sederhana sampai kepada yang kompleks (mulai dari mengenal huruf sampai dengan kemampuan membaca buku).
Berkesinambungan artinya bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Contoh : untuk dapat berdiri, seorang anak terlebih dahulu harus menguasai tahapan perkembangan sebelumnya yaitu kemampuan duduk dan merangkak.
Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut:
Terjadinya perubahan dalam aspek : Fisik (berat dan tinggi badan) dan Psikis (berbicara dan berfikir)
Terjadinya perubahan proporsi: Fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya) dan Psikis (perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis).
Lenyapnya tanda – tanda yang lama: Fisik (rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal) dan Psikis (lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsive).
Diperolehnya tanda – tanda baru: Fisik (pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua) dan Psikis (berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama).
Prinip- prinsip perkembangan individu, yaitu :
a. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
b. Semua aspek perkembangan saling berhubungan.
c. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan.
d. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
e. Setiap individu normal akan mengalami tahapan perkembangan.
f. Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu.
Arah atau pola perkembangan sebagai berikut :
a. Cephalocaudal & proximal-distal (perkembangan manusia itu mulai dari kepala ke kaki dan dari tengah (jantung, paru dan sebagainya) ke samping (tangan).
b. Struktur mendahului fungsi.
c. Diferensiasi ke integrasi.
d. Dari konkret ke abstrak.
e. Dari egosentris ke perspektivisme.
f. Dari outer control ke inner control.
Tahapan – Tahapan Perkembangan Individu
Dalam berbagai literatur kita dapati berbagai pendekatan dalam menentukan tahapan perkembangan individu, diantaranya adalah pendekatan didaktis. Dalam hal ini, Syamsu Yusuf (2003) mengemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis, sebagai berikut :
a. Masa Usia Pra Sekolah
Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik
Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impuls-impuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya.
Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka.
b. Masa Usia Sekolah Dasar
Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) :
Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.
Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
Membandingkan dirinya dengan anak yang lain.
Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.
Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
Masa Usia Sekolah Menengah
Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja, yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu :
masa remaja awal; biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif, dalam jasmani dan mental, prestasi, serta sikap sosial,
masa remaja madya; pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung dan dipuja.
masa remaja akhir; setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja, yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa.
Masa Usia Kemahasiswaan (18,00-25,00 tahun)
Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya, yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup.
B. Dinamika perilaku individu
1. Pengamatan adalah proses belajar mengenal segala sesuatu yang berada di lingkungan sekitar dengan menggunakan alat indera penglihatan, pendengaran, pengecap dan pembau.
2. Persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di otak atau pengertian individu tentang situasi atau pengalaman. Ciri umum dari persepsi adalah terkait dengan dimensi ruang dan waktu, terstruktur, menyeluruh dan penuh arti. Persepsi bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh perhatian selektif, ciri-ciri rangsangan, nilai dan kebutuhan individu, dan pengalaman.
3. Berfikir adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir bertujuan untuk membentuk pengertian, membentuk pendapat, dan menarik kesimpulan. Proses Berfikir kreatif terdiri dari persiapan , inkubasi, iluminasi, verifikasi. Jenis berpikir ada 2 yaitu berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi.
4. Inteligensi dapat diartikan sebagai:
1) Kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir rasional.
2) Kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru.
3) Kemampuan memecahkan simbol-simbol tertentu. Inteligensi tidak sama dengan IQ karena IQ hanya rasio yang diperoleh dengan menggunakan tes tertentu yang tidak atau belum tentu menggambarkan kemampuna individu yang lebih kompleks. Teori tentang inteligensi di antaranya G-Theory (general theory) dan S-Theory (specific theory). Inteligensi dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
5. Sikap adalah evaluasi positif-negatif-ambivalen individu terhadap objek, peristiwa, orang, atau ide tertentu. Sikap merupakan perasaan, keyakinan, dan kecenderungan perilaku yang relatif menetap. Unsur-unsur sikap meliputi kognisi, afeksi, dan kecenderungan bertindak. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap adalah pengalaman khusus, komunikasi dengan orang lain, model, dan lembaga-lembaga sosial.
C. Arah Perkembangan Individu
Pada individu-individu yang tergolong normal pada umumnya perkembangan laju pesat sampai usia limabelas tahun, di mana tercapainya titik optimal kedewasaan perkembangan fungsi-fungsi fisik dan psikis (intelektual).
Ada tiga kemungkinan kecenderungan arah garis perkembangan hidup seseorang yang dapat digambarkan secara visual, sebagai berikut.
Kemungkinan perkembangan selanjutnya:
1. Kemungkinan pertama, bagi mereka yang tidak memperoleh kesempatan untuk belajar atau melatih fungsi-fungsinya (terutama segi intelektual), maka kemampuannya cenderung tidak berkembang lagi sampai usia sekitar empat puluh tahunan. Bahkan, setelah mencapai usia tersebut kemampuannya mulai menurun, malahan tidak kurang jumlahnya yang menuju pikun pada hari-hari tuanya (garis a)
2. Kemungkinan kedua, bagi mereka yang bernasib baikuntuk memperoleh kesempatan belajar atau melatih fungsi-fungsi psikofisiknya lebih lanjut, maka perkembangan kemampuan fungsi-fungsi masih ada baiknya bersifat peningkatan atau perluasan sampai taraf empat puluhan pulam namun selanjutnya, setelah dijalani usia tersebut tidak berkesempatan lagi belajar, tetapi hanya bekerja, secara routline dan monoton, maka cenderung untuk berada pada titik jenuh tersebut dan tidak berkembang lagi (garis b).
Namun bagi mereka yang terus berusaha belajar dan mengumuli perkembangan informasi-informasi mutakhir, perkembangan itu dapat terjadi meskipun hanya bersifat perluasan atau pendalaman (garis c).
Konsep Perilaku Individu
1. Pengertian Perilaku
a. Menurut Notoatmodjo (2003). Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
b. Menurut Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. Perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar. Jadi, Perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang paling dirasakan sampai yang paling tidak dirasakan.
2. Bentuk Perilaku
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dakam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan / kesadaran, dan sikap yang terjadi belumbisa diamati secara jelas oleh orang lain.
Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice).
3. Pandangan tentang Perilaku
ada lima pendekatan utama tentang perilaku yaitu;
a. pendekatan neurobiologik, pendekatan ini menitikberatkan pada hubungan antara perilaku dengan kejadian yang berlangsung dalam tubuh (otak dan syaraf) karena perilaku diatur oleh kegiatan otak dan sistem syaraf.
b. pendekatan behavioristik, pendekatan ini menitikberatkan pada perilaku yang nampak dan perilaku dapat dibentuk dengan pembiasaan dan pengukuhan melalui pengkondisian stimulus.
c. pendekatan kognitif, menurut pendekatan ini individu tidak hanya menerima stimulus yang pasif tetapi mengolah stimulus menjadi perilaku baru.
d. pandangan psikoanalisis, menurut pandangan ini perilaku individu didorong oleh insting bawaan dan sebagian besar perilaku itu tidak disadari.
e. pandangan humanistik, perilaku individu bertujuan yang ditentukan oleh aspek internal individu. Individu mampu mengarahkan perilaku dan memberikan warna pada lingkungan.
4. Domain Perilaku
Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor – factor yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominanyang mewarnai perilaku seseorang. (Notoatmodjo, 2007 hal 139)
5. Jenis-jenis Perilaku Individu
a. perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan syaraf
b. perilaku tak sadar, perilaku yang spontan atau instingtif
c. perilaku tampak dan tidak tampak
d. perilaku sederhana dan kompleks
e. perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor. Mekanisme perilaku
Dalam pandangan behavioristik, mekanisme perilaku individu adalah :
W ------ S ------- r -------- O ------- e -------- R ------- W
Keterangan: W = world (lingkungan) e = effector
S = stimulus R = respon
R = receptor W = lingkungan
O = organisme
Pandangan humanistik, menurut pandangan ini perilaku merupakan siklus dari 1) dorongan timbul, 2) aktivitas dilakukan, 3) tujuan dihayati, dan 4) kebutuhan terpenuhi/rasa puas.
6. Dinamika Perilaku Individu
a. pengamatan adalah proses belajar mengenal segala sesuatu yang berada di lingkungan sekitar dengan menggunakan alat indera penglihatan, pendengaran, pengecap dan pembau.
b. persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di otak atau pengertian individu tentang situasi atau pengalaman. Ciri umum dari persepsi adalah terkait dengan dimensi ruang dan waktu, terstruktur, menyeluruh dan penuh arti. Persepsi bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh perhatian selektif, cir-ciri rangsangan, nilai dan kebutuhan individu, dan pengalaman.
c. berfikir adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir bertujuan untuk membentuk pengertian, membentuk pendapat, dan menarik kesimpulan. Proses Berfikir kreatif terdiri dari persiapan , inkubasi, iluminasi, verifikasi. Jenis berpikir ada 2 yaitu berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi.
7. Teori Perilaku
Menurut Teori Lawrence Green (1980) faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh:
Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :
a. Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
b. Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan sebagainya.
c. Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Teori Snehandu B. Kar (1983)
Kar mencoba menganalisis perilaku bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari :
a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behavior itention).
b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).
c. Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accesebility of information).
d. Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy).
e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).
Teori WHO (1984)
WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu adalah :
a. Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan).
b. Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.
c. Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.
d. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia (Notoatmodjo, 2003).
e. Teori perilaku menitik beratkan pada aspek-aspek eksternal belajar, termasuk stimuli eksternal, respon perilaku siswa, dan penguatan yang mengikuti respon yang sesuai. Berdasarkan dengan teori perilaku yang dikemukakan oleh Thorndike tentang Law of Effect dalam Budayasa(1998: 11), bahwa respon menyenangkan yang dialami sebelumnya cenderung diulangi dan respon yang tidak menyenangkan yang dialami sebelumnya cenderung dibuang. Jadi menurut Thorndike kecuali hubungan antara stimulus dan respon, teori yang dikemukakan menekankan terutama pada prinsip-prinsip pengetahuan.
f. Sesuai dengan teori Thorndike di atas, pelaksanaan sistem pembelajaran di kelas tidak lepas dari pemberian penghargaan dan hukuman. Di samping dalam penyampaian pembelajaran guru kepada siswa tidak lepas dari penyampaian secara langsung informasi-informasi yang akan dipelajari oleh siswa. Sesuai dengan teori belajar perilaku agar ketuntasan belajar sains siswa dicapai maka materi ajar yang akan diberikan perlu dianalisis ke dalam bagian-bagian sederhana, menulis tujuan perilaku untuk tiap bagian, menyajikan informasi yang akan diberikan secara jelas dan ringkas, memberikan latihan-latihan berulang-ulang kepada siswa, memberikan umpan balik secepatnya terhadap respon yang diberikan siswa, dan sering mengulangi materi yang diajarkan.
8. Mekanisme Terjadinya Perilaku
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni.
Awareness (kesadaran) yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu
Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
Evaluation (menimbang – nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya).Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
Trial, orang telah mulai mencoba perilaku bar
Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus
9. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku dan Pribadi Manusia
Dengan menggunakan konsep dasar psikologis, khususnya dalam konteks pandangan behaviourisme, kita dapat menyatakan bahwa praktik pendidikan itu pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan pula menghasilkan pola-pola perilaku(seperangkat respon ) tertentu. Prestasi belajar dalam pengetahuan (penalaran), sikap (penghayatan), dan keterampilan (pengalaman) merupakan indicator-indikator atau manifestasi dari perubahan dan perkembangan perilaku tersebut.Sejalan dengan paradigma Fungsional, paradigma Sosialisasi melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah:
mengembangkan kompetensi individu
kompetensi yang lebih tinggi tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas
secara urnum, meningkatkan kemampuan warga masyarakat dan semakin banyaknya warga masyarakat yang memiliki kemampuan akan meningkatkan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
a. Menurut Notoatmodjo (2003). Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
b. Menurut Drs. Leonard F. Polhaupessy, Psi. Perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar. Jadi, Perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang paling dirasakan sampai yang paling tidak dirasakan.
2. Bentuk Perilaku
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dakam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan / kesadaran, dan sikap yang terjadi belumbisa diamati secara jelas oleh orang lain.
Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice).
3. Pandangan tentang Perilaku
ada lima pendekatan utama tentang perilaku yaitu;
a. pendekatan neurobiologik, pendekatan ini menitikberatkan pada hubungan antara perilaku dengan kejadian yang berlangsung dalam tubuh (otak dan syaraf) karena perilaku diatur oleh kegiatan otak dan sistem syaraf.
b. pendekatan behavioristik, pendekatan ini menitikberatkan pada perilaku yang nampak dan perilaku dapat dibentuk dengan pembiasaan dan pengukuhan melalui pengkondisian stimulus.
c. pendekatan kognitif, menurut pendekatan ini individu tidak hanya menerima stimulus yang pasif tetapi mengolah stimulus menjadi perilaku baru.
d. pandangan psikoanalisis, menurut pandangan ini perilaku individu didorong oleh insting bawaan dan sebagian besar perilaku itu tidak disadari.
e. pandangan humanistik, perilaku individu bertujuan yang ditentukan oleh aspek internal individu. Individu mampu mengarahkan perilaku dan memberikan warna pada lingkungan.
4. Domain Perilaku
Diatas telah dituliskan bahwa perilaku merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar). Hal ini berarti meskipun bentuk stimulusnya sama namun bentuk respon akan berbeda dari setiap orang. Faktor – factor yang membedakan respon terhadap stimulus disebut determinan perilaku. Determinan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
Faktor internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat given atau bawaan misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dan sebagainya.
Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik, fisik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering menjadi factor yang dominanyang mewarnai perilaku seseorang. (Notoatmodjo, 2007 hal 139)
5. Jenis-jenis Perilaku Individu
a. perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan syaraf
b. perilaku tak sadar, perilaku yang spontan atau instingtif
c. perilaku tampak dan tidak tampak
d. perilaku sederhana dan kompleks
e. perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor. Mekanisme perilaku
Dalam pandangan behavioristik, mekanisme perilaku individu adalah :
W ------ S ------- r -------- O ------- e -------- R ------- W
Keterangan: W = world (lingkungan) e = effector
S = stimulus R = respon
R = receptor W = lingkungan
O = organisme
Pandangan humanistik, menurut pandangan ini perilaku merupakan siklus dari 1) dorongan timbul, 2) aktivitas dilakukan, 3) tujuan dihayati, dan 4) kebutuhan terpenuhi/rasa puas.
6. Dinamika Perilaku Individu
a. pengamatan adalah proses belajar mengenal segala sesuatu yang berada di lingkungan sekitar dengan menggunakan alat indera penglihatan, pendengaran, pengecap dan pembau.
b. persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di otak atau pengertian individu tentang situasi atau pengalaman. Ciri umum dari persepsi adalah terkait dengan dimensi ruang dan waktu, terstruktur, menyeluruh dan penuh arti. Persepsi bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh perhatian selektif, cir-ciri rangsangan, nilai dan kebutuhan individu, dan pengalaman.
c. berfikir adalah aktivitas yang bersifat ideasional untuk menemukan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Berpikir bertujuan untuk membentuk pengertian, membentuk pendapat, dan menarik kesimpulan. Proses Berfikir kreatif terdiri dari persiapan , inkubasi, iluminasi, verifikasi. Jenis berpikir ada 2 yaitu berpikir tingkat rendah dan tingkat tinggi.
7. Teori Perilaku
Menurut Teori Lawrence Green (1980) faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh:
Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :
a. Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
b. Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan sebagainya.
c. Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Teori Snehandu B. Kar (1983)
Kar mencoba menganalisis perilaku bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari :
a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behavior itention).
b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).
c. Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accesebility of information).
d. Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy).
e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).
Teori WHO (1984)
WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu adalah :
a. Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan).
b. Tokoh penting sebagai Panutan. Apabila seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.
c. Sumber-sumber daya (resources), mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.
d. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber-sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat manusia (Notoatmodjo, 2003).
e. Teori perilaku menitik beratkan pada aspek-aspek eksternal belajar, termasuk stimuli eksternal, respon perilaku siswa, dan penguatan yang mengikuti respon yang sesuai. Berdasarkan dengan teori perilaku yang dikemukakan oleh Thorndike tentang Law of Effect dalam Budayasa(1998: 11), bahwa respon menyenangkan yang dialami sebelumnya cenderung diulangi dan respon yang tidak menyenangkan yang dialami sebelumnya cenderung dibuang. Jadi menurut Thorndike kecuali hubungan antara stimulus dan respon, teori yang dikemukakan menekankan terutama pada prinsip-prinsip pengetahuan.
f. Sesuai dengan teori Thorndike di atas, pelaksanaan sistem pembelajaran di kelas tidak lepas dari pemberian penghargaan dan hukuman. Di samping dalam penyampaian pembelajaran guru kepada siswa tidak lepas dari penyampaian secara langsung informasi-informasi yang akan dipelajari oleh siswa. Sesuai dengan teori belajar perilaku agar ketuntasan belajar sains siswa dicapai maka materi ajar yang akan diberikan perlu dianalisis ke dalam bagian-bagian sederhana, menulis tujuan perilaku untuk tiap bagian, menyajikan informasi yang akan diberikan secara jelas dan ringkas, memberikan latihan-latihan berulang-ulang kepada siswa, memberikan umpan balik secepatnya terhadap respon yang diberikan siswa, dan sering mengulangi materi yang diajarkan.
8. Mekanisme Terjadinya Perilaku
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni.
Awareness (kesadaran) yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu
Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus
Evaluation (menimbang – nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya).Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi
Trial, orang telah mulai mencoba perilaku bar
Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus
9. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap Perubahan dan Perkembangan Perilaku dan Pribadi Manusia
Dengan menggunakan konsep dasar psikologis, khususnya dalam konteks pandangan behaviourisme, kita dapat menyatakan bahwa praktik pendidikan itu pada hakekatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan pula menghasilkan pola-pola perilaku(seperangkat respon ) tertentu. Prestasi belajar dalam pengetahuan (penalaran), sikap (penghayatan), dan keterampilan (pengalaman) merupakan indicator-indikator atau manifestasi dari perubahan dan perkembangan perilaku tersebut.Sejalan dengan paradigma Fungsional, paradigma Sosialisasi melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah:
mengembangkan kompetensi individu
kompetensi yang lebih tinggi tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas
secara urnum, meningkatkan kemampuan warga masyarakat dan semakin banyaknya warga masyarakat yang memiliki kemampuan akan meningkatkan kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Wawasan Landasan Psikologi Pendidikan dan Profesi Kependidikan
A. Wawasan Landasan Psikologi Kependidikan
1. Pengertian Landasan Psikologis dalam Pendidikan
Landasan psikologis pendidikan yang termasuk ke dalam landasan ilmiah pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Tujuan psikologi pendidikan adalah mempelajari tingkah laku manusia dan perubahan tingkah laku itu sebagai akibat proses dari tangan kependidikan dan berusaha bagaimana suatu tingkah laku itu seharusnya diubah, dibimbing melalui pendidikan.
2. Ruang Lingkup Spikologi Pendidikan
Pada umumnya isi atau daerah psikologi dapat dibagi menjadi 4 golongan:
a. Pertumbuhan dan perkembangan individu.
b. Masalah belajar dan perbuatan belajar.
c. Pengukuran dan penilaian
d. Penyuluhan dan bimbingan
3. Metode Psikologi Pendidikan
Setiap situasi dalam psikologi pendidikan membutuhkan pendekatan dengan cara tertentu sesuai dengan sifat dan hakikat daripada situasi itu. Situasi yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Dalam psikologi pendidikan metode-metode yang sering digunakan ada 9 macam yaitu:
a. Metode Intropeksi adalah suatu metode yang tertua, metode ini dipergunakan untuk menyelidiki proses-proses kejiawaan yang berlangsung pada diri sendiri.
b. Metode Observasi
c. Metode Eksperimen
d. Metode Test
e. Metode Angket
f. Metode Proyeksi
g. Metode Case Studi
h. Metode Klinis
i. Metode Statistik
B. Profesi kependidikan
1. Profesi Guru
Profesi adalah pekerjaan yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang berkualitas tinggi dalam mengabdi untuk mencapai kesejahteraan. Hakikat profesi adalah melakukan pelayanan dan pengabdian yang dilandasi dengan kemampuan dan filsafat yang baik dan mantap.
Ciri-ciri profesi
Apabila seseorang berbicara seperti memiliki daftar teori yang sistematis.
Kewenangan diakui oleh masyarakat
Agar kebudayaan profesi yang terdiri atas norma atau kode etik.
Unsur-unsur profesi
Memiliki dasar ilmu yang sistematis dari dasar teori maksudnya memiliki wawasan pengetahuan yang bisa dipertanggung jawabkan berdasarkan teori yang ada.
Ada sangsi masyarakat
Ada penilaian dari masyarakat atas kemampuannya atau profesi yang dimilikinya.
Setiap profesi keguruan harus mempunyai norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi didalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidup masyarakat.
Kewarganegaraan profesi setara dengan sertifikat tenaga profesi guru.
Kebudayaan profesi
Peraturan profesi.
2. Kompetensi Guru
Profesi pendidik merupakan profesi yang sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa, hal ini tidak lain karena posisi pendidikan yang sangat penting dalam konteks kehidupan bangsa. Pendidik merupakan unsur dominan dalam suatu proses pendidikan, sehingga kualitas pendidikan banyak ditentukan oleh kualitas pendidik dalam menjalankan peran dan tugasnya di masyarakat.
Dengan mengingat hal tersebut, maka jelas bahwa upaya-upaya untuk terus mengembangkan profesi pendidik (Guru) menjadi suatu syarat mutlak bagi kemajuan suatu bangsa, meningkatnya kualitas pendidik akan mendorong pada peningkatan kualitas pendidikan baik proses maupun hasilnya.
Pengembangan profesi Pendidik/Guru
Strategi Pengembangan profesi Pendidik/Guru
Pengembangan profesi tenaga pendidik dan arah perkembangan pendidikan di Indonesia
Pengembangan profesi tenaga pendidik berbasis kemandirian dan marketing
Pengembangan profesi tenaga pendidik dan pendorong inovasi
3. Guru Profesional
Ada satu hal penting yang menjadi aspek bagi sebuah profesi, yaitu sikap profesional dan kualitas kerja. Profesional (dari bahasa Inggris) berarti ahli, pakar, mumpuni dalam bidang yang digeluti. Menjadi profesional adalah meramu kualitas dengan intergiritas, menjadi guru pforesional adalah keniscayaan. Namun demikian, profesi guru juga sangat lekat dengan peran yang psikologis, humannis bahkan identik dengan citra kemanusiaan. Karena ibarat sebuah laboratorium, seorang guru seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen terhadap nasib anak manusia dan juga suatu bangsa. Ada beberapa kriteria untuk menjadi guru professional,
Memiliki skill/keahlian dalam mendidik atau mengajar
Memiliki kemampuan intelektual yang memadai
Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan
Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau metodelogi pembelajaran
Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan
Kemampuan mengorganisir dan problem solving
Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik
4. Masalah dan Tantangan Guru Masa Depan
a. Masalah Guru Masa Depan
Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah guru yang dirasakan masih kurang, ketiga, masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru.
Masalah Kualitas Guru
Kualitas guru Indonesia, saat ini disinyalir sangat memprihatinkan. Berdasarkan data tahun 2002/2003, dari 1,2 juta guru SD saat ini, hanya 8,3%nya yang berijasah sarjana. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan.
Jumlah Guru yang Masih Kurang
Jumlah guru di Indonesia saat ini masih dirasakan kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yang tersedia saat ini, dirasakan masih kurang proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 30 anak didik. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 15-20 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.
Masalah Distribusi Guru
Di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah, baik karena alasan keamanan maupun faktor-faktor lain, seperti masalah fasilitas dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh yang diharapkan.
Masalah Kesejahteraan Guru
Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat memprihatinkan. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteaan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.
b. Tantangan Guru Masa Depan
Di sejumlah negara yang tidak bisa menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas internasional akan segera tertinggal di arena kompetisi dunia, karena di dalam paham ‘dunia yang rata’, semua pesaing memiliki kesempatan yang sama. Maka, mereka yang tidak mampu menggunakan kesempatan yang ada, akan segera tertinggal. Para guru di Indonesia telah lama dibebani dengan beragam masalah termasuk kurangnya pelatihan, kualifikasi pendidikan yang tidak memadai, pendapatan yang rendah dan minimnya fasilitas pendukung lainnya. Menyadari masalah tersebut, pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan gaji para guru hingga bernilai total Rp. 50 triliun di tahun 2009; yang berarti kenaikan hingga 100% bagi sebagian guru.
Suka atau tidak, para guru di Indonesia harus segera menyadari, mereka kini dituntut dan diadili oleh standar internasional dan dibandingkan dengan para guru dari seluruh dunia oleh pemerintah, perusahan multinasional, investor, orang tua dan murid. Bila para guru Indonesia tidak memenuhi standar dunia, maka perusahaan-perusahaan multi nasional akan memilih untuk mendirikan kantor-kantor di tempat lain karena ketiadaan tenaga kerja yang memadai; para investor juga akan meragukan kualitas para calon pemimpin bangsa; para orang tua yang mampu dan murid-murid yang berbakat akan memilih belajar di luar negeri, kondisi ini bisa memicu fenomena yang dikenal sebagai ‘hampa intelektual’ (brain drain) di Indonesia.
Guru Indonesia masa depan adalah guru yang dapat menguasai internet. Relevan dengan Moore's Law yang diciptakan oleh Gordon E Moore bahwa ke depan setiap orang hendaknya akrab dengan "peralatan mikro" supaya mampu mengikuti perkembangan informasi.
Guru Indonesia masa depan harus mampu menguasai internet serta siap mengaplikasikannya baik dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Nantinya pasti akan terasa lucu kalau ada guru yang tidak mengenal komputer dan internet. Kalau guru kita tidak mengenal internet, nanti akan makin tertinggal oleh guru-guru di negara maju. Bahkan, dengan guru-guru Malaysia yang dulu pernah berguru di Indonesia pun, guru-guru kita akan makin tertinggal.
Penguasaan internet para guru secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional. Dengan menguasai internet, maka pengetahuan, ilmu, dan teknologi yang ditransfer kepada siswa akan lebih menarik, lebih cepat, dan lebih aktual.
Memang harus disadari bahwa internet bukanlah segala-galanya. Guru Indonesia masa depan memang harus menguasai internet, tetapi di sisi yang lain harus tetap memahami kultur, sikap, dan nilai keindonesiaan. Hal ini pun merupakan hal yang tidak bisa ditawar pula. Jadi, guru Indonesia masa depan adalah guru yang tetap memahami kultur, sikap, dan nilai keindonesiaan di satu sisi dan menguasai teknologi informasi di sisi lain.
Selain itu rendahnya kemampuan guru dalam bidang Bahasa Inggris menjadi tantangan utama dan paling besar dihadapi para guru, apalagi saat ini guru harus menghadapi kian menjamurnya sekolah-sekolah berlabel "internasional", "rintisan internasional", atau "nasional plus". Sampai saat ini masih banyak guru belum berhasil untuk dijadikan role model sebagai pengguna Bahasa Inggris yang baik.
1. Pengertian Landasan Psikologis dalam Pendidikan
Landasan psikologis pendidikan yang termasuk ke dalam landasan ilmiah pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Tujuan psikologi pendidikan adalah mempelajari tingkah laku manusia dan perubahan tingkah laku itu sebagai akibat proses dari tangan kependidikan dan berusaha bagaimana suatu tingkah laku itu seharusnya diubah, dibimbing melalui pendidikan.
2. Ruang Lingkup Spikologi Pendidikan
Pada umumnya isi atau daerah psikologi dapat dibagi menjadi 4 golongan:
a. Pertumbuhan dan perkembangan individu.
b. Masalah belajar dan perbuatan belajar.
c. Pengukuran dan penilaian
d. Penyuluhan dan bimbingan
3. Metode Psikologi Pendidikan
Setiap situasi dalam psikologi pendidikan membutuhkan pendekatan dengan cara tertentu sesuai dengan sifat dan hakikat daripada situasi itu. Situasi yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Dalam psikologi pendidikan metode-metode yang sering digunakan ada 9 macam yaitu:
a. Metode Intropeksi adalah suatu metode yang tertua, metode ini dipergunakan untuk menyelidiki proses-proses kejiawaan yang berlangsung pada diri sendiri.
b. Metode Observasi
c. Metode Eksperimen
d. Metode Test
e. Metode Angket
f. Metode Proyeksi
g. Metode Case Studi
h. Metode Klinis
i. Metode Statistik
B. Profesi kependidikan
1. Profesi Guru
Profesi adalah pekerjaan yang memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang berkualitas tinggi dalam mengabdi untuk mencapai kesejahteraan. Hakikat profesi adalah melakukan pelayanan dan pengabdian yang dilandasi dengan kemampuan dan filsafat yang baik dan mantap.
Ciri-ciri profesi
Apabila seseorang berbicara seperti memiliki daftar teori yang sistematis.
Kewenangan diakui oleh masyarakat
Agar kebudayaan profesi yang terdiri atas norma atau kode etik.
Unsur-unsur profesi
Memiliki dasar ilmu yang sistematis dari dasar teori maksudnya memiliki wawasan pengetahuan yang bisa dipertanggung jawabkan berdasarkan teori yang ada.
Ada sangsi masyarakat
Ada penilaian dari masyarakat atas kemampuannya atau profesi yang dimilikinya.
Setiap profesi keguruan harus mempunyai norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi didalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidup masyarakat.
Kewarganegaraan profesi setara dengan sertifikat tenaga profesi guru.
Kebudayaan profesi
Peraturan profesi.
2. Kompetensi Guru
Profesi pendidik merupakan profesi yang sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa, hal ini tidak lain karena posisi pendidikan yang sangat penting dalam konteks kehidupan bangsa. Pendidik merupakan unsur dominan dalam suatu proses pendidikan, sehingga kualitas pendidikan banyak ditentukan oleh kualitas pendidik dalam menjalankan peran dan tugasnya di masyarakat.
Dengan mengingat hal tersebut, maka jelas bahwa upaya-upaya untuk terus mengembangkan profesi pendidik (Guru) menjadi suatu syarat mutlak bagi kemajuan suatu bangsa, meningkatnya kualitas pendidik akan mendorong pada peningkatan kualitas pendidikan baik proses maupun hasilnya.
Pengembangan profesi Pendidik/Guru
Strategi Pengembangan profesi Pendidik/Guru
Pengembangan profesi tenaga pendidik dan arah perkembangan pendidikan di Indonesia
Pengembangan profesi tenaga pendidik berbasis kemandirian dan marketing
Pengembangan profesi tenaga pendidik dan pendorong inovasi
3. Guru Profesional
Ada satu hal penting yang menjadi aspek bagi sebuah profesi, yaitu sikap profesional dan kualitas kerja. Profesional (dari bahasa Inggris) berarti ahli, pakar, mumpuni dalam bidang yang digeluti. Menjadi profesional adalah meramu kualitas dengan intergiritas, menjadi guru pforesional adalah keniscayaan. Namun demikian, profesi guru juga sangat lekat dengan peran yang psikologis, humannis bahkan identik dengan citra kemanusiaan. Karena ibarat sebuah laboratorium, seorang guru seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen terhadap nasib anak manusia dan juga suatu bangsa. Ada beberapa kriteria untuk menjadi guru professional,
Memiliki skill/keahlian dalam mendidik atau mengajar
Memiliki kemampuan intelektual yang memadai
Kemampuan memahami visi dan misi pendidikan
Keahlian mentrasfer ilmu pengetahuan atau metodelogi pembelajaran
Memahami konsep perkembangan anak/psikologi perkembangan
Kemampuan mengorganisir dan problem solving
Kreatif dan memiliki seni dalam mendidik
4. Masalah dan Tantangan Guru Masa Depan
a. Masalah Guru Masa Depan
Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia, yaitu : pertama, masalah kualitas/mutu guru, kedua, jumlah guru yang dirasakan masih kurang, ketiga, masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru.
Masalah Kualitas Guru
Kualitas guru Indonesia, saat ini disinyalir sangat memprihatinkan. Berdasarkan data tahun 2002/2003, dari 1,2 juta guru SD saat ini, hanya 8,3%nya yang berijasah sarjana. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan.
Jumlah Guru yang Masih Kurang
Jumlah guru di Indonesia saat ini masih dirasakan kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yang tersedia saat ini, dirasakan masih kurang proporsional, sehingga tidak jarang satu raung kelas sering di isi lebih dari 30 anak didik. Idealnya, setiap kelas diisi tidak lebih dari 15-20 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal.
Masalah Distribusi Guru
Di daerah-daerah terpencil, masing sering kita dengar adanya kekurangan guru dalam suatu wilayah, baik karena alasan keamanan maupun faktor-faktor lain, seperti masalah fasilitas dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh yang diharapkan.
Masalah Kesejahteraan Guru
Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru-guru kita sangat memprihatinkan. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperti ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, diluar dari tugas pokok mereka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar. Peningkatan kesejahteaan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesinalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktek bisnis di sekolah.
b. Tantangan Guru Masa Depan
Di sejumlah negara yang tidak bisa menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas internasional akan segera tertinggal di arena kompetisi dunia, karena di dalam paham ‘dunia yang rata’, semua pesaing memiliki kesempatan yang sama. Maka, mereka yang tidak mampu menggunakan kesempatan yang ada, akan segera tertinggal. Para guru di Indonesia telah lama dibebani dengan beragam masalah termasuk kurangnya pelatihan, kualifikasi pendidikan yang tidak memadai, pendapatan yang rendah dan minimnya fasilitas pendukung lainnya. Menyadari masalah tersebut, pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan gaji para guru hingga bernilai total Rp. 50 triliun di tahun 2009; yang berarti kenaikan hingga 100% bagi sebagian guru.
Suka atau tidak, para guru di Indonesia harus segera menyadari, mereka kini dituntut dan diadili oleh standar internasional dan dibandingkan dengan para guru dari seluruh dunia oleh pemerintah, perusahan multinasional, investor, orang tua dan murid. Bila para guru Indonesia tidak memenuhi standar dunia, maka perusahaan-perusahaan multi nasional akan memilih untuk mendirikan kantor-kantor di tempat lain karena ketiadaan tenaga kerja yang memadai; para investor juga akan meragukan kualitas para calon pemimpin bangsa; para orang tua yang mampu dan murid-murid yang berbakat akan memilih belajar di luar negeri, kondisi ini bisa memicu fenomena yang dikenal sebagai ‘hampa intelektual’ (brain drain) di Indonesia.
Guru Indonesia masa depan adalah guru yang dapat menguasai internet. Relevan dengan Moore's Law yang diciptakan oleh Gordon E Moore bahwa ke depan setiap orang hendaknya akrab dengan "peralatan mikro" supaya mampu mengikuti perkembangan informasi.
Guru Indonesia masa depan harus mampu menguasai internet serta siap mengaplikasikannya baik dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Nantinya pasti akan terasa lucu kalau ada guru yang tidak mengenal komputer dan internet. Kalau guru kita tidak mengenal internet, nanti akan makin tertinggal oleh guru-guru di negara maju. Bahkan, dengan guru-guru Malaysia yang dulu pernah berguru di Indonesia pun, guru-guru kita akan makin tertinggal.
Penguasaan internet para guru secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan nasional. Dengan menguasai internet, maka pengetahuan, ilmu, dan teknologi yang ditransfer kepada siswa akan lebih menarik, lebih cepat, dan lebih aktual.
Memang harus disadari bahwa internet bukanlah segala-galanya. Guru Indonesia masa depan memang harus menguasai internet, tetapi di sisi yang lain harus tetap memahami kultur, sikap, dan nilai keindonesiaan. Hal ini pun merupakan hal yang tidak bisa ditawar pula. Jadi, guru Indonesia masa depan adalah guru yang tetap memahami kultur, sikap, dan nilai keindonesiaan di satu sisi dan menguasai teknologi informasi di sisi lain.
Selain itu rendahnya kemampuan guru dalam bidang Bahasa Inggris menjadi tantangan utama dan paling besar dihadapi para guru, apalagi saat ini guru harus menghadapi kian menjamurnya sekolah-sekolah berlabel "internasional", "rintisan internasional", atau "nasional plus". Sampai saat ini masih banyak guru belum berhasil untuk dijadikan role model sebagai pengguna Bahasa Inggris yang baik.
Thursday, February 11, 2010
Miley Cyrus – Party in The U.S.A.mp3
Miley Cyrus – Party in The U.S.A
I hopped on the plane at LAX
With a dream of my cargidan
Welcome to the land of fame access
Am I gonna fit in?
Jumped in the cab here I am for the first time
Look to my right
And I see the Hollywood sign
This is all so qrazy
Everybody seem so famouse!
*
My tummy's turnin'
And I'm feeling kinda homesick
Too much pressure
And I'm nervous
'Cause when the taximan turned on the radio
(And the DJ dropped my favorite tune)
And a Jay Z song was on
And a Jay Z song was on
And a Jay Z song was on
(Chorus)
So I put my hands up
They're playin' my song
The butterflies fly away
Noddin' my head like 'Yeah'
Movin' my hips like 'Yeah'
I got my hands up
They're playing my song
I know I'm gonna be okay
Yeah
It's a Party in the USA
Yeah
It's a Party in the USA
Get to club in my taxicab
Everybody's lookin' at me now
Like "Who's that chick with rocking' kicks she gotta be from out of town"
So hard with my girls all around me
It's definitley not a Nashville party
'Cause all I see are stilletos
I guess I never got the memo
(*)
And a Britney song was on
And a Britney song was on
And a Britney song was on
(Chorus)
Feel like hoppin' on a flight
Back to my hometown tonight
Something stops me everytime
The DJ plays my song and I feel alright!
(Chorus 2x)
I hopped on the plane at LAX
With a dream of my cargidan
Welcome to the land of fame access
Am I gonna fit in?
Jumped in the cab here I am for the first time
Look to my right
And I see the Hollywood sign
This is all so qrazy
Everybody seem so famouse!
*
My tummy's turnin'
And I'm feeling kinda homesick
Too much pressure
And I'm nervous
'Cause when the taximan turned on the radio
(And the DJ dropped my favorite tune)
And a Jay Z song was on
And a Jay Z song was on
And a Jay Z song was on
(Chorus)
So I put my hands up
They're playin' my song
The butterflies fly away
Noddin' my head like 'Yeah'
Movin' my hips like 'Yeah'
I got my hands up
They're playing my song
I know I'm gonna be okay
Yeah
It's a Party in the USA
Yeah
It's a Party in the USA
Get to club in my taxicab
Everybody's lookin' at me now
Like "Who's that chick with rocking' kicks she gotta be from out of town"
So hard with my girls all around me
It's definitley not a Nashville party
'Cause all I see are stilletos
I guess I never got the memo
(*)
And a Britney song was on
And a Britney song was on
And a Britney song was on
(Chorus)
Feel like hoppin' on a flight
Back to my hometown tonight
Something stops me everytime
The DJ plays my song and I feel alright!
(Chorus 2x)
David Archuleta - My Hands.mp3
David Archuleta - My hands Lyric
Accidentally, on purpose
I dropped my watch behind the tire
Threw my alarm clock inside the fireplace - Yeah
And I put the parental control on
On the news and the weather channel - Uh
I'm outside in my robe
I'm looking for you - Oh
If everything stopped
I'd listen for your heart
To lead me right to you - Yeah
I tried every way I can
But it's harder to hold on
To your hands than the hands of time
I need a hand
Girl I'm trying to hold on,
Losing strength in these hands of mine
I need you here
I'm trying to hold on,
I'm standing here, open hands
And I know I can't do this alone
Hold on, hold on
Baby hold on
Can you hold on to my hands
Don't let go
Accidentally, on purpose
I dropped my watch behind the tire
Threw my alarm clock inside the fireplace - Yeah
And I put the parental control on
On the news and the weather channel - Uh
I'm outside in my robe
I'm looking for you - Oh
If everything stopped
I'd listen for your heart
To lead me right to you - Yeah
I tried every way I can
But it's harder to hold on
To your hands than the hands of time
I need a hand
Girl I'm trying to hold on,
Losing strength in these hands of mine
I need you here
I'm trying to hold on,
I'm standing here, open hands
And I know I can't do this alone
Hold on, hold on
Baby hold on
Can you hold on to my hands
Don't let go
Mariah Carey - Obsessed.mp3
Mariah Carey - Obsessed Lyric
I Was Like, why you so obsessed with me?
Will the real MC please step to the mic?
MC- You need an MC, place to be
MC the MC
All up in the blogs
Say we met at the bar
When I don't even know who you are
Say we up in your house
Sayin' I'm up in your car
But you in LA but I'm out at Jermaine's
I'm up in the A- you so so lame
and no on here even mentions your name
It must be the weed, it must be the E
'cause you be poppin, hood, you get it poppin'
(churos)
Ooh oh
why you so obsessed with me?
Boy I want to know- lyin' that you're sexin me
when everybody knows it's clear that you're upset with me
Ohh finally found a girl that you couldn't impress
Last man on the earth- still couldn't get this
You're delusional, you're delusional
Boy you're losing your mind
It's confusin yo', you're confused you know
Why you wasting your time?
Got you all fired up with your Napoleon complex
See right through you like you're bathin' in windex
Ooh Ohh Ohh boy why you so obsessed with me?
And all the ladies sing, all the girls sing
You on your job, you hittin' hard
Ain't gon feed you, imma let you starve
Graspin' for air I'm ventilation
You out of breath, hope you ain't waitin
Tellin' the world how much you miss me
But we never were so why you trippin'
You a mom and pop, I'm a corporation
I'm the press conference, you a conversation
(churos)
I Was Like, why you so obsessed with me?
Will the real MC please step to the mic?
MC- You need an MC, place to be
MC the MC
All up in the blogs
Say we met at the bar
When I don't even know who you are
Say we up in your house
Sayin' I'm up in your car
But you in LA but I'm out at Jermaine's
I'm up in the A- you so so lame
and no on here even mentions your name
It must be the weed, it must be the E
'cause you be poppin, hood, you get it poppin'
(churos)
Ooh oh
why you so obsessed with me?
Boy I want to know- lyin' that you're sexin me
when everybody knows it's clear that you're upset with me
Ohh finally found a girl that you couldn't impress
Last man on the earth- still couldn't get this
You're delusional, you're delusional
Boy you're losing your mind
It's confusin yo', you're confused you know
Why you wasting your time?
Got you all fired up with your Napoleon complex
See right through you like you're bathin' in windex
Ooh Ohh Ohh boy why you so obsessed with me?
And all the ladies sing, all the girls sing
You on your job, you hittin' hard
Ain't gon feed you, imma let you starve
Graspin' for air I'm ventilation
You out of breath, hope you ain't waitin
Tellin' the world how much you miss me
But we never were so why you trippin'
You a mom and pop, I'm a corporation
I'm the press conference, you a conversation
(churos)
Subscribe to:
Posts (Atom)